Kasus COVID Varian Delta Semakin Melonjak, Bursa Asia Semakin Menurun.

Kasus COVID Varian Delta Semakin Melonjak, Bursa Asia Semakin Menurun.

Seiring dengan pelemahan bursa saham Amerika Serikat (AS) dan rasa khawatir pasar investor atas kembali melonjaknya kasus virus Corona (COVID-19) dalam beberapa hari terakhir di beberapa negara Asia, membuat kekhawatiran pasar atas naiknya kembali kasus virus corona (Covid-19) di beberapa negara Asia dalam beberapa hari terakhir, membuat mayoritas bursa saham Asia yang dibuka pada awal perdagangan hari ini cenderung menurun.

Menurut data indeks Topix Tokyo ditutup ambles 0,08% ke 1923,48, sementara indeks Nikkei Jepang menguat ke 27.575,010 sekitar 0,19%. Di pagi ini pun, STI Singapura ambruk hinggal 0,50% ke 3.130,070 dan indeks Shanghai Composite China terpantau terkoreksi 017% ke 3.522,950.

Sementara indeks Hang Seng Hong Kong menurun 0,12% ke 26.140,689 juga di pagi ini. Dan selanjutnya KOSPI Korea Selatan merosot 0,58% ke 3.152,12.

Dikutip dari Jeffrey Halley, seorang analis pasar senior dalam wawancaranya dengan Refinitiv, wabah COVID-19 dan pembatasan yang meluas nantinya akan menjadi game changer dalam pemulihan saham Asia dan juga sangat membebani setimen di pasar yang pastinya mempertimbangkan implikasi pergerakan saham terdapat rantai pasokan.

Penurunan Bursa Asia ini juga dipicu oleh pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang baru baru ini mengatakan bahwa pandemic COVID-19 belum akan berakhir dalam waktu depan walaupun tingkat vaksinasi sudah ditingkatkan semaksimal mungkin.

Dapat kita lihat bahwa di beberapa negara Asia seperti India, Indonesia, Malaysia, dan Taiwan terus terjadi kelonjakan kasus infeksi yang dilaporkan, hal hal ini lah yang membuat pembatasan aktivitas ekonomi kembali diterapkan oleh pemerintah terkait,

Sementara itu di negara-negara barat yang terjadi adalah hal sebaliknya, beberapa negara sudah mulai mengurangi pembatasan sosial juga aktivitas ekonomi. Salah satu contohnya di Amerika Serikat, dimana pemerintah Negara Bagian New Yorks sudah kembali mengizinkan para warga kembali beraktivitas seperti biasa tanpa menggunakan masker untuk mereka yang sudah mendapatkan dosis vaksin.

Hal ini mempengaruhi sikap para pelaku pasar bursa yang cenderung beralih ke saham sektor defensif dan mulai mengabaikan data ekonomi yang sepertinya kurang menyenangkan pihak investor dari China. Sehingga membuat Indeks S&P 500 dan Dow Jones di bursa Wall Street atau bursa saham Amerika Serikat mencapai rekor paling tinggi pada perdagangan bursa efek di awal minggu ini, waktu setempat.

Menurut data, Indeks S&P 500 melonjak dua kali lipat dari penutupan terendah pada awal pandemic di Maret tahun lalu menjadi 0,26% ke 4.479,71 yang sebelumnya sempat menyentuh angka 2.237,40. Dan tercatat indeks Dow Jones naik 0,31% ke 35.625,40.

admbursaefekindonesia

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read also x